Ketua PWNU Jatim Mengaku Dalam Tekanan

 

MAKASSAR –   Isu dukung-mendukung makin hangat saja jelang Muktamar ke-34 NU di Lampung, 23 – 26 Desember mendatang. Termasuk munculnya dukungan dari PWNU Jawa Timur, pada Selasa (12/10) yang secara mengejutkan menyebut paket KH Miftachul Akhyar sebagai Calon Rais ‘Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Calon Ketua Umum PBNU.

Namun tak lama berselang, muncul konfirmasi kabar yang lumayan mengejutkan juga perihal sikap dukungan ini. Sebagaimana beredar di sosial media, disebutkan mengenai pengakuan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh KH Marzuki Mustamar selaku Ketua PWNU Jawa Timur.

“Ketika saya menyanggah untuk mendengarkan pandangan yang lain, tetap saja mereka memaksa saya untuk tanda tangan,” demikian salah satu pernyataan Kiai kharismatik tersebut beberapa jam setelah menyampaikan keterangan Pers “dibawah” tekanan.

Sebagaimana viral di media sosial, kesan kekurangnyamanan tersebut disampaikan ulang oleh Andi Jamaro Dulung (AJD) yang merupakan tokoh NU Sulawesi Selatan.

“Jadi pada hari Selasa tanggal 12 sekitar jam 21.09, saya (Andi Jamaro Dulung-red) dihubungi oleh KH Marzuki Mustamar terkait surat dukungan PWNU ke Gus Yahya,” tulis Andi Jamaro dalam 4 pesan kronologis yang tersebar luas di whatsapp group.

Mengutip keterangan KH Marzuki Mustamar, disebutkan kalau pernyataan dukungan itu telah dimatangkan sebelumnya di kediaman KH Anwar Iskandar, salah seorang Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur.

Pada saat dibawa ke forum musyawarah PWNU Jawa Timur, surat tersebut terlebih dulu sudah ditanda tangan oleh Rais dan Katib Syuriyah.

“Diteken dulu baru dibicarakan di PWNU, dengan penekanan bahwa ini dawuhnya Syuriyah,” tulis mantan anggota DPR RI ini.

Andi yang juga salah satu Ketua PBNU pada periode 1999 – 2009, menduga, unsur Syuriyah yang dominan menginisiasi pernyataan dukungan ini sesungguhnya juga menjadi pihak yang dipengaruhi oleh kekuatan kepentingan lain yang hendak memanas-manaskan suasana jelang Muktamar NU.

“Saya yakin Rais Syuriyah juga “didekte” untuk menandatangani surat itu,” tulisnya.

Sebagaimana banyak beredar di sosial media, kesan kurang lazim memang nampak dalam fisik surat pernyataan yang bertandatangan lengkap empat tokoh struktural NU Jawa Timur itu. Antara lain tidak adanya nomor surat, serta kallimat pembuka dan penutup surat yang baku laiknya tradisi surat menurat yang lain di tubuh Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Baca Juga
Komentar
Loading...