Ini Wasiat Leluhur Pesantren Tua di Karawang

407

Karawang, Buletinnusantara.com – Pesantren Darul Ulum salah satu pesantren tua yang berada di daerah pegunungan Kampung Babakan Pojok Desa Cinta Asih Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karawang – Jawa Barat masih kuat pegang teguh sistem Salafiyah dengan rujukan kitab – kitab kuning meneruskan tradisi leluhur ulama terdahulu dari para pendiri walau zaman sudah modern. Hingga saat ini makam ulama para pendiri pesantren ini ramai diziarahi masyarakat dari berbagai daerah.

Bermula seorang lurah Narmin yang kemudian setelah meninggal dunia beliau di hajikan dan namanya di ganti oleh putranya menjadi Haji Abdulloh, adalah lurah desa Gombong Kecamatan Pangkalan beristrikan Hajah Fatimah memiliki empat orang anak, tiga laki-laki satu perempuan yaitu KH Hasan Mustofa, KH Ali Mundziri, Hj Hasanah dan KH Ahmad Badri, semuanya menjadi seorang Ulama atau Kiyai hingga mendirikan pesantren Darul Ulum ini.

KH Dudung yang akrab di panggil Ajengan Dudung kepada Buletinnusantara (21/10/2016) menuturkan, bahwa H Abdulloh Pernah mewasiatkan agar jangan sampai ada anak cucu keturunannya yang menjadi pejabat pemerintahan. Dihawatirkan, tidak kuat mengimbangi rusaknya mental orang – orang pemerintahan nantinya. Karena masa pemerintahan yang dialami oleh H Abdulloh saja sudah parah kondisinya, apalagi beberapa puluh tahun yang akan datang. Hingga saat ini, anak cucu keturunannya tidak boleh ada yang menjadi pejabat pemerintahan. Ada beberapa yang mencoba untuk berusaha menjadi Legislatip, tapi selalu gagal. Hal ini diyakini oleh kebanyakan anak cucu keluarga karna leluhurnya yaitu H Abdulloh tidak merestui sebab mujarabnya do’a pernah bersumpah meminta kepada Alloh swt.

Ajengan Udu putra KH Zainal Abidin (alm) juga bercerita dengan bahasa sunda, yang diterjemahkan bahasa Indonesia seperti ini, “dulu pernah ada orang bertanya kepada saya, bagaimana bapaknya seorang lurah jaman dulu tapi anak-anaknya bisa menjadi Kiyai semua, jawab ajengan udu, Lurah jaman dahulu selain jagoan, lurah jaman dahulu bisa menaklukan rampok, tapi belum pernah seorang lurah ini memberikan makan atau nafkah buat anak-anaknya dari hasil yang haram. Bahkan ia sangat cinta atau mahabbah kepada seorang Ulama bernama Mama’ Syuja’i yang berada di daerah Pagelaran Kecamatan Pangkalan sekitar pesisir gunung yang saat ini hilang terhempas oleh aliran air gunung, hingga putra putrinya dititipkan kepada beliau untuk menimba ilmu agama. Hingga akhirnya semua menjadi para ulama atau Kiyai dan berdirilah pondok pesantren Darul Ulum ini sejak tahun 1942. Santri putra dikelola oleh KH Hasan Mustofa, KH Ali Mundziri, KH Ahmad Badri dan santri putri di kelola oleh Nyai Hj Hasanah, sampai saat ini dilanjutkan oleh penerus anak cucunya.
Pimpinan umum Pesantren Darul Ulum saat ini setelah KH Cep Husna wafat di pegang oleh KH Didin Sirojuddin, Darul Ulum Al Banat (putri) pimpinan KH Zainal Abidin (Almarhum) saat ini dipimpin oleh putranya yaitu Ajengan Dudu Badrudin dan dikelola bersama oleh KH Aang Yazid Bustomi dan Ajengan Didi. Sementara Al !Banat Junior dikelola oleh Ustad Obay, Ustadzah Ani, Ustadzah Imas. Ada juga Darul Ulum putri Al Barokah di pegang oleh Mama sepuh KH Duyeh Jalaludin. Pesantren ini bertekad mendidik, membimbing, untuk mencetak pribadi-pribadi santri yang ber akhlakul karimah, cerdas dalam agama, santun dalam berdakwah, berkiprah di masyarakat. Semua santri yang mukim disini khusus mempelajari ilmu agama, bagi santri yang sambil bersekolah di referensikan ke sekolah-sekolah terdekat disekitar podok pesantren.
Pesantren Darul Ulum ini sudah banyak mencetuskan para alumni yang menjadi ulama – ulama kesohor di berbagai daerah yang banyak berkiprah memperjuangkan dakwah islamiyah di masyarakat. Termasuk di Kabupaten bekasi terdapat ulama masyhur terkenal yaitu Mama’ Ajengan Zarkasih (alm.) yang berada di Kampung Rawa Bangkong Desa Serta Jaya Kecamatan Cikarang Timur Kabupaten bekasi – Jawa Barat.

Pesan untuk para santri alumni Pesantren Darul Ulum Babakan Pojok dari Ajengan Udu dan Ajengan Dudung, Jadilah bermanfaat untuk masyarakat Khoirun Naas Anfa’uhum Linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. (Erwin/TS)

Baca Juga
Komentar
Loading...