Pendidikan Masalalu Dimulai dari Pesantren

2

Buletinnusantara – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Salatiga menyelenggarakan sarasehan kebangsaan dengan tema Melawan Amnesia Sejarah dan Resolusi Jihad Sebagai Peneguha Semangat Bangsa. Sarasehan tersebut mendatangkan KH Agus Suyoto yang dilaksanaan di Pondok Pesantren Al Falah, Grogol, Kota Salatiga.

Ketua Cabang PMII Kota Salatiga M Arfan mengatakan, sejarah bangsa Indonesia tidak terlepas dari peran kiai dan santri. Perlu para ulama dan santri dalam merebut dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sangatlah nyata. Bahkan, sampai hari ini para santri tetap siap dan solid untuk menjadi garda terdepan dalam mengawal serta mempertahankan NKRI.

“Kami sadari peranan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sangatlah nyata. Bahkan setelah merdeka sampai hari ini santri tetap siap untuk menjadi garda terdepan dalam mengawal NKRI,”.

KH Agus Suyoto menjelaskan, pendidikan di masa lalu dimulai dari pesantren, sebelum munculnya belajar di sekolah buatan Belanda. “Pendidikan pesantren sudah ada jauh sebelum pendidikan formal/sekolah, hal tersebut dibuktikan para pendahulu seperti Pangeran Diponogoro yang mendalami pendidikannya di dalam pesantren.KH Agus Sunyoto juga menyatakan pesantren merupakan pusat akulturasi budaya dan agama Islam. Beliau mengatakan sejumlah kitab yang diajarkan di pesantren menggunakan bahasa ibu, seperti kitab tafsir Al-Jalalain dengan metode khas dari pesantren.

Kitab yang disusun Jalaluddin al-Mahalli pada 1459 ini diterbitkan di Beirut, Lebanon. Kitab ini diterjemahkan dengan tulisan Arab berbahasa Jawa. Para kiai sepuh, ucap dia, mengajarkan dengan cara yg sederhana sehingga dapat di pahami dengan kultur dan budaya dijawa.
Bahkan, tutur dia, para kiai juga berdoa dengan bahasa Jawa.

Sedangkan resolusi jihad dimunculkan pertama kali oleh KH Hasyim Asy’ari sebagai perlawanan terhadap Belanda ketika akan menghancurkan Surabaya. “Nah, dengan demikian marilah kembalikan peranan pesantren di masyarakat, gerakan kembali tradisi pesantren seperti tahlil, dan sebagainya. Hal tersebut tentunya akan menjadi landasan utama di dalam memperkuat Islam Nusantara dari gangguan penyebaran Islam modern,”.

Baca Juga
Komentar
Loading...