Sekjen PBNU Serahkan School Kit untuk Anak-anak Lombok

62

BuletinNusantara.com, Lombok Utara – Guna memastikan bantuan dari program NU Peduli Lombok tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran, Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini mengunjungi dan menyapa langsung warga terdampak bencana gempa bumi Lombok, tepatnya di Pesantren Bayyinul Ulum, di Dusun Subak Sepuluh, Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, Selasa (4/09).

“Dalam rangka tentunya melihat keadaan di Lombok, dan memastikan bahwa bantuan-bantuan yang telah dihimpun melalui gerakan NU Peduli Lombok tersalurkan dengan baik,” jelas Helmy.

Bantuan tersebut, kata Helmy, untuk pendidikan, kesehatan, hunian sementara, sekolah-sekolah darurat, trauma healing, bantuan psiko sosial bagi masyarakat yang trauma akibat gempa.

“Dan saya melihat,  mengecek langsung, alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Helmy juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para donatur dan mengajak seluruh masyarakat untuk terus bahu-membahu membantu warga Lombok.

“Terima kasih kepada para donatur tentunya. Doa kami mudah-mudahan semoga menjadi amal sholeh, dan mari terus kita bahu-membahu membantu agar Lombok ini bisa bangkit kembali,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu, berbarengan dengan kegiatan Bersholawat bersama Haddad Alwi yang digagas oleh LP Ma’arif NU, Helmy juga menyerahkan sejumlah bantuan school kit berupa tas, buku, dan ATK kepada para santri Ponpes Bayyinul Ulum, pimpinan Tuan Guru Haji Sukarman.

Selanjutnya, bersama Tim NU Peduli dan Tuan Guru Haji Sukarman, Helmy menyusuri beberapa lokasi yang menjadi titik program NU Peduli Lombok.

Selanjutnya, bersama Tim NU Peduli dan Tuan Guru Haji Sukarman, Helmy menyusuri beberapa lokasi yang menjadi titik program NU Peduli Lombok.

Anggota Tim NU Peduli Lombok, Anik Rifqoh menjelaskan bahwa program untuk tanggap darurat sudah selesai. Bantuan logistik pun sudah berjalan di berbagai titik, di enam Posko NU Peduli.

Alhamdulliah, pelan-pelan kita ke masuk ke masa transisi. Saat ini, kami sedang membangun MCK darurat di beberapa titik pengungisan. Juga hunian sementara (Huntara) ukuran 3 x 6 meter. Selain itu, kita juga membangun mushola dan madrasah darurat, agar warga bisa beraktivitas, bisa beribadah, dan anak-anak bisa bersekolah seperti sedia kala,” papar Anik, yang juga manajer program NU Care-LAZISNU.

Disampaikan pula, dalam rancangan program, untuk tanggap darurat selesai sampai tanggal 30 Agustus. Kemudian tahap transisi akan berjalan hingga bulan Februari 2019. Setelah itu, lanjut ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. [Wahyu Noerhadi]

Baca Juga
Komentar
Loading...